Melawan menangkap wangi yang sangat khas, mirip wangi kasturi

Melawan Arus

 

 

Hidup
itu singkat…

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Tapi
dunia itu luas…

 

Aku
terjatuh dari langit-langit kamar yang terbuat dari lembaran-lembaran kayu
lapuk.  Aku mendarat persis di
tengah-tengah lutut seorang perempuan yang sedang tertidur dengan posisi badan
telentang. Sesekali kudengar ia mendengkur, seperti seekor Naga
yang tertidur panjang dalam gua 
keabadian. Malam memang telah larut, tapi balon lampu yang masih terang-menyala
membuatku masih bisa mondar-mandir sebagai makhluk yang kehilangan arah.

Bagai
dituntun oleh cahaya aurora, seluruh kutub-kutub jiwaku
diselimuti oleh adrenalin yang menyala. Kurasa kulit lembut dari perempuan itu
tidak cukup untuk melampiaskan kekesalan atas bentuk yang harus kuperankan
sebagai makhluk kecil, yang dalam banyak hal, dianggap tidak punya arti sama
sekali.

Selagi
belum ada yang menyadari kehadiranku, lebih baik aku mencari sesuatu yang bisa
memuaskan naluriku. Dari lutut, aku berjalan entah kemana, kurasa kakiku
menyentuh banyak permukaan, kasar, halus, datar, dan sesekali berlubang. Aku
melewati sebuah tanjakan, dan beberapa lipatan kain sebelum berhenti untuk
memastikan bahwa tempat itu cukup aman dari gerakan yang mematikan.

Dan
sepertinya memang aman…

Aku memperhatikan sekelilingku dan
akhirnya bisa kupastikan kalau aku sedang berada di bagian pinggang perempuan
itu. Aku mulai merasakan ada sesuatu yang indah di sana,
sesuatu yang indah untuk dilekati dengan perasaan.

“Mungkin
aku sedang berada di kaki bianglala surga dunia.”

“Di
sini aku akan membuang nelangsa, akan kubesarkan jiwaku meski raga yang
menopangnya sangat kecil.”

Indra
penciumanku mulai menangkap wangi yang sangat khas, mirip wangi kasturi yang
dengan sekejap bisa mengubah rasa hambarku menjadi bongkahan selera yang
menggunung. Meski mataku hanya menangkap benda-benda raksasa yang membosankan,
tapi aku yakin di balik itu ada setitik manis yang bisa memberiku kenikmatan.
Perlahan namun sangat pasti, wangi itu menuntunku pada sebuah tempat yang
semakin indah untuk dijelajahi. Tidak salah lagi, aku masuk di saku rok mini
perempuan itu. Di dalamnya ada surga, aku rela hidup seabad di sana.

Sebuah
permen buatan luar negeri. Meski gelap karena tertutup kain, tapi aku bisa
menikmatinya dengan beberapa gigitan. Bukankah rasa bisa mengalahkan
penglihatan. Aku terus melubangi plastik tipis yang membungkusnya dengan dua
batang gigiku, yang meskipun kecil, namun senantiasa menjadi senjata ampuh
untuk melawan setiap rintangan di kehidupanku, sampai aku mendapati isi yang
sempurna lalu mengisapnya. Aku meneguk manis yang memabukkan.

“Kurasa
aku akan betah, setidaknya untuk beberapa putaran waktu, tak
peduli apa yang terjadi di luar sana.”

Aku
adalah semut betina yang kesepian. Aku terlempar dari pegunungan. Aku terseret
oleh air bah. Aku dimuntahkan oleh bocah lelaki yang
ingusan. Aku terusik dan terusir oleh zat-zat kimia yang disemprotkan oleh
tukang kebun dan penjaga taman. Tapi manis permen itu akan kukenang sebagai hal
yang paling sejati, dalam hidupku yang sangat singkat.

Penderitaan
dan kesenangan memang hampir tak punya batas. Kalau
pun ada, mungkin hanya setipis ari yang
dengan mudah dirobek hanya dengan goresan kuku atau sebatang lidi.

Em…
Lanjut…!!!

Kuceritakan
kisahku kepada iblis yang terbahak-bahak setelah mencabuli semua keyakinan para
manusia, pada malaikat yang mulai jenuh mendengar setiap ungkapan pilu dari
makhluk-makhluk kecil sepertiku, dan juga pada siapa saja yang mau belajar
tanpa harus bertanya siapa yang akan 
mengajarinya.

Aku
masih berada dalam saku perempuan itu…

Aku
tidak merasa kalau waktu sedang bergeser detik demi detik, kenikmatan menjalar
di semua bagian tubuhku. Tiba-tiba sebuah jemari dengan kuku tajam, bercat pink
dan sedikit tajam menelusup menghampiriku. Ia seperti badai tsunami yang bisa
memporak-porandakan bangunan rumah dan peradabanku. Beruntung aku bisa
menyelamatkan diri, tapi sial, jemari itu merampas permen yang
kubangga-banggakan.

Kenikmatan
berganti dengan resah. Mungkin aku harus kembali ke titik nol.

Rasanya
tidak ada alasan untuk tinggal dalam kegelapan tanpa kepastian. Mata dan
telingaku boleh dibatasi, tapi insting ditambah sisa-sisa tekad yang masih
menyala, meski kian redup, membuatku terus memanjat sampai mencapai puncak yang
kelihatan terang.

“Astaga…”

Aku
terperanjat melihat perubahan di depan mataku. Kurasa aku berada dalam
imajinasi seorang pesulap hebat yang bisa merekayasa kenyataan dan perspektif
dalam waktu yang sama sekali tidak kurasakan.

Balon
lampu menjadi matahari yang bersinar ramah, langit-langit kamar menjelma
menjadi angkasa biru tanpa batas, kasur dan bantal menjadi hamparan tanah yang
ditumbuhi aneka rumput dan bunga-bungaan. Sementara perempuan yang tadinya
berbaring sendiri, kini sedang duduk dan becerita dengan seorang lelaki.

Tirai
dari panggung pengalamanku akan kututup dengan membuka tirai pengalaman
selanjutnya. Apa yang sedang dibicarakan oleh mereka tidak menjadi hal yang
penting dalam duniaku. Nenek moyangku pernah mengatakan kalau etika dan
kehormatan tidak untuk dibahas sampai tenggorokan mengering, tapi cukup
ditegakkan dengan tindakan.

Tapi
aku masih butuh betis perempuan itu, akan kutitipkan perjalanan selanjutnya
padanya. Aku segera memanjat. Terasa halus, betisnya tak berbulu. Ia seperti
kilat yang sangat cepat. Bila suatu saat aku bertemu dengan ibuku, pasti akan
kuceritakan semua hal yang sempat kulihat dan kurasakan. Selama ini ibuku hanya
sering bercerita tentang solidaritas.

“Gajah
yang besarnya ribuan kali lipat dari ukuran tubuh kita akan takluk bila kita
bisa saling menguatkan. Kita tidak perlu bertanya tentang siapa yang akan mati
dan tetap hidup di akhir perjuangan kelak, karena yang kita butuhkan adalah
pengakuan, entah dalam keadaan mati atau hidup. Perasaan kita tak perlu
dicerai-beraikan, sebab nama kita hanya satu. Nama itulah kehormatan kita. Kita
akan abadi di dinding-dinding, di balik bebatuan atau diruang-ruang dapur para
ibu.”

Perempuan
itu pergi meninggalkan lelakinya. Cengkraman kakiku harus lebih kuat agar aku
tidak terjatuh dan terinjak oleh kaki-kaki yang tak punya mata. Dari betis, aku
kembali ke rok mini perempuan itu.

Beberapa
saat kemudian, rok mini sebagai labirinku dilepas. Lalu aku terangtung pada
dinding bercat hijau yang banyak dihiasi dengan gambar-gambar lelaki yang
berotot besar. Mungkin perempuan itu akan mandi sebab wangi farfumnya mulai terganti
dengan bau keringat yang kurang menarik.

Opstz…
dugaanku ternyata salah…

Lelaki
yang tadi menemaninya di taman tiba-tiba muncul dari balik pintu kamar dan
langsung mengambil tempat di sisi perempuan itu. Aku menjadi teringat dengan
sepasang anjing binal yang penah kutemui di pinggiran hutan yang sunyi.
Sesekali kudengar suara mereka mendesah dengan nafas yang memburu.

Persetan
dengan etika yang tak punya ukuran jelas.

Malam
ini kita mengukurnya lewat kedalam rasa.

Keduanya
tersenyum puas, sebelum lelaki itu pergi dengan langkah yang sedikit gontai.
Dan aku juga harus pergi, ini bukan sesuatu yang menarik. Apa yang kulihat tak
seindah gambaranku tentang kehebatan makhluk yang bernama manusia. Kuharap ada
makhluk yang bisa mengantarku pada pemandangan yang lebih indah.

Harapanku
memang tak sia-sia…

Seekor
kucing jantan membawaku di sebuah ruang makan dimana sebuah keluarga membentuk
kolaborasi dan konfigurasi. Ruangan itu kelihatan sempurna, mirip puri istana
yang dihuni oleh raja serta kerabat-kerabtnya.

(sambil
makan, diiringi gesekan biola)

Ayah                            : Kini tiba saatnya
kita menggantikan cerita dari generasi-generasi yang telah hilang atau
setidaknya telah usang tergerus jaman. Senyum kita akan menggantikan wangi
cendana yang akan segera punah oleh kebringasan para penjarah hutan. Kita akan
menyelami samudera kehidupan untuk mendapatkan keutuhan yang telah karam di
dasar Atlantik  sana.

Ibu                               : Wajibkah itu
kita lakukan, tidakkah itu nantinya membawa kita pada resiko besar, kita akan
menjadi tumbal keeogisan dunia. Mengapa kita harus menjadi
pengganti, mengapa kita tidak menjadi penerus atas cerita yang memang telah
berada pada episode dan detik-detik terakhir.

Ayah                            : Lalu kita hanya
datang untuk melengkapi setiap noda dan kebobrokan sejarah. Tidak, bahkan kita
tidak sekedar datang untuk menjadi aktor dan memainkan peran baru, justru kita
datang untuk menciptakan panggung kehidupan yang baru, dengan sejarah yang
tidak terikat dengan sejarah sebelumnya.

Ibu                               : Tapi dengan apa
kita bisa melakukan semua itu.

Ayah                            : Dengan cara tidak
bertanya tentang apa yang harus dilakukan, tapi melakukan apa seharusnya
dipertanyakan.

Anak
perempuan        : Adakah dunia yang lebih
indah dari taman yang selalu memanjakanku dengan permainan.

Ayah                            : Setiap tempat dan
setiap waktu adalah taman untuk bermain. Tapi kalian harus ingat, bahwa hidup
adalah permainan yang butuh keseriusan, kebebasan yang butuh prinsip, hidup
adalah kata-kata yang dipertanggungjawabkan.

Anak
laki-laki                  : Jika demikian, maka ajari kami tentang arti
keseriusan, prinsip dan pertanggungjawaban.

Ayah                            : Belajarlah pada
burung gereja yang memintal jerami dan ilalang 
menjadi rajutan sarang yang indah, rayap-rayap yang membuat balok-balok
jati menjadi serbuk kayu yang halus, atau belajarlah pada panas yang terikat
oleh api, pada suara-suara yang melekat pada tebing-tebing subuh yang hening.

Ibu                               : Aku yakin
kalian adalah rencana-rencana terbaik Tuhan untuk hidupku (sambil mengusap
kepala putra-putrinya), kalian tak perlu risau tentang apa jadinya masa depan
kalian nanti, sebab Tuhan selalu adil di setiap rencananya.

Ayah                            : Keadilan Tuhan
hanya dapat dilihat dan dirasakan dengan cara yang adil pula, kebaikanNya akan
menjadi kebaikan bila orang-orang menyikapinya dengan kebaikan. Kita terus
berjalan menuju pada kesempurnaan.

Anak
perempuan       :
Bagaimana kalau kami mati sebelum mencapai titik kesempurnaan itu.

Ayah                            : Dipikirkan atau
tidak dipikirkan, kematian akan datang sebab kematian juga bagian dari
kehidupan.

Ibu                               : Kalian masih
muda untuk berbicara tentang kematian, lebih baik membereskan mainan kalian,
sebab sebentar lagi permainan-permaianan itu juga akan berganti dengan
kedewasaan kalian. Emosi akan terus ditempa
seiring usia yang menghantam kita.

Anak
Laki-laki             : Kami beruntung
dapat hadir di sisi ayah dan ibu.

Anak
perempuan        : Ini adalah dosa bila
tak disyukuri.

Ayah                            : Kalian adalah
bukti cinta sejati.

Ibu                               : Kalian adalah
bias kesempurnaan abadi.

Anak
perempuan        : Cinta itu apa…

Ayah                            : Cinta adalah gelombang
dari segala samudera. Cinta adalah rasa dari setiap zat.
Cinta adalah alasan dan tujuan dari
segala eksistensi.

Anak
perempuan        :
Aku menjadi tidak mengerti.

Ayah                            :
Ketidakmengertian adalah bentuk kecerdasan tertinggi tentang cinta.

Kali
ini aku sangat tertarik untuk bersama orang-orang ini. Kucoba memanjat kaki
kursi yang terbuat dari kayu jati dengan coraknya yang indah. Meski sedikit
licin oleh bahan anti gores yang melekatinya, tapi akhirnya aku berhasil sampai
di kepala lelaki yang dari tadi kuperhatikan seperti orang bijak yang paham
tentang banyak hal. Rambutnya sedikit keriting dan mengeluarkan wangi yang
sangat harum.

Di kepala itulah, kucatatkan mu’jizat
dalam hidupku. Semua makhluk mungkin tidak akan percaya dengan peristiwa yang
saya alami. Tapi bagaimana pun
aku merasa perlu membeberkannya kepada siapa saja. Agar sejak saat ini kita
mulai percaya bahwa di luar kekuasaan kita memang tersimpan sebuah kekuasaan
yang maha tak terbatas. Kita tidak perlu ragu untuk membangun sebuah impian sebab
ternyata kemustahilan memang tidak ada.

Sekali
lagi aku adalah seekor semut betina yang kesepian…

Dalam
kesepianku itu, aku mendapat kesempatan untuk melintasi beberapa negara hanya
dalam hitungan jam, ternyata laki-laki berambut keriting itu adalah seorang
presiden dari salah satu lembaga parlemen internasional. Bersamanya aku melihat
pabrik-pabrik nuklir yang megah, lalu mengunjungi tempat-tempat pengungsian
yang dihuni oleh ribuan korban perang. Aku melihat proyek peluncuran pesawat
ruang angkasa, serta pusat-pusat pelelangan benda peninggalan sejarah.

Namun
yang paling luar biasa adalah aku bisa berdiri di atas sebuah mimbar, dan di
hadapanku sedang duduk ratusan tokoh-tokoh yang paling berpengaruh terhadap
kebidajakan global. Lalu kusaksikan lelaki itu ber’orasi dengan suara yang
sangat lantang…

Tentang
perang

Bisakah
kita tertidur lelap sementara di sekeliling kita sedang bising oleh tangisan
bayi yang kehilangan orang tua mereka. Bisakah kita menikmati cakrawala senja
bila angkasa tak henti dipenuhi luncuran roket-roket yang mematikan. Bisakah
kita tenang sementara mata kita menyaksikan orang-orang berlumuran darah.
Bisakah kita beristirahat di antara puing-puing serta reruntuhan bangunan, oleh
bom dan geranat.

Tidak,
demi Tuhan… hidup hanya bisa dinikmati tanpa
perang, ribuan bahkan jutaan nyawa telah melayang, teramat banyak cita-cita
yang telah terkubur karena kehilangan kesempatan. Terlalu sering nurani kita
digetarkan dengan rintihan pilu dari mulut-mulut yang tak berdaya.

Saatnya
kebencian itu ditanggalkan, karena sungguh kita bisa saling menyapa tanpa harus
ada prasangka dan rasa saling ingin menguasai. Mari mengganti proyek pembuatan
senjata dan memperbanyak tentara dengan proyek penanaman hutan-hutan yang telah
rusak. Mari kita akhiri pembicaraan kita tentang strategi perang dan
menggantinya dengan diskusi tentang persaudaraan dan solidaritas. Mari kita
hidup tanpa dendam, tanpa kebencian.

Tentang
keadilan ekonomi

Bukan
soal kapitalis dan sosialis. Bukan soal untung rugi yang dikalkulasi dengan
hitungan persen, juga bukan tentang nila tukar mata uang antar Negara. Tapi
kita harus berani mengatakan kalau ada yang salah bila jutaan orang yang sedang
berada di bawah garis kemiskinan. Mereka
tidak mampu memenuhi kebutuhan gizi mereka, membiayai pendidikan formal, serta
membangun perumahan yang layak huni.

Sekian
banyak buruh yang dimesinkan, sementara petani-petani dijajah lewat harga. Ada
jurang pemisah yang sangat jelas antar-penghuni kasta ekonomi. Ada lapangan
kerja yang hanya didominasi oleh kelas-kelas tertentu.

Kita
tentu tidak ingin menambah dosa dengan membiarkan hal itu terus terjadi.
Ekonomi yang baik adalah ekonomi yang mampu menyeimbangkan antara kepemilikan
individu dan aspek-aspek sosial. Kita boleh bangga dan sangat berhak memiliki
mobil mewah atau berlian, tapi disisi
lain, kita bisa menjadi sangat terhormat
bila bisa merasakan rasa pahit-manis orang-orang disekeliling kita. Saatnya
pelaku ekonomi juga menjadi pelaku humanisasi.

Sebenarnya
masih banyak “tentang” yang disampaikan oleh lelaki itu, tapi hampir semuanya
telah kulupakan, Tuhan memang tidak memberiku otak yang cerdas seperti otak
manusia. . . Maaf ya.